Sunday, January 20, 2013

ADA APA DENGAN KURIKULUM 2013

Rencana pemerintah menerapkan kurikulum baru tahun 2013 menuai kontroversi. Banyak pihak menolak rencana tersebut. Di sisi lain, masyarakat, terutama kalangan pendidik dan tenaga kependidikan masih dibuat bingung dengan rencana tersebut.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga tampaknya setengah hati menyikapi hal ini.  Mereka mempersilakan rencana itu bergulir, tetapi (masih) menahan anggaran untuk implementasi kurikulum baru itu, kecuali untuk uji publik.
Guliran rencana diterapkannya kurikulum 2013 seperti bola liar. Ada beberapa pokok pandangan, yaitu pertama, sebagian pihak mendasarkan opininya pada pameo klasik “ganti menteri ganti kurikulum’. Ini kemudian diidentikkan dengan ganti menteri ganti buku, yang berarti perlu uang untuk membeli buku baru.  Kedua, lebih menyoroti pada soal besaran anggaran yang diperlukan (Rp.684,4 miliar) dan sebagian lagi menyoal digabungkannya  beberapa mata pelajaran dan pengintegrasian suatu mata pelajaran dalam mata pelajaran lain. Ketiga, keluhan tentang beban jumlah mata pelajaran yang harus dipelajari siswa di sekolah. Ini juga berarti kerepotan guru dan terkait dengan efektivitas dan efisiensi jumlah jam pelajaran di sekolah.
Sejatinya, kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang mencakup tujuan, isi, bahan, dan cara atau metode pembelajaran yang menjadi pedoman pelaksanaan dalam suatu program pendidikan.
Kurikulum dapat dikelompokkan dalam dua pengertian, yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, kurikulum adalah konsep yang merujuk pada sistem pendidikan yang berlaku. Dalam arti sempit, kurikulum dapat berarti kesatuan beberapa mata pelajaran, satu mata pelajaran, kelompok rumpun keilmuan, suatu program rencana pembelajaran, dan sebagainya, yang menjelaskan tentang rencana rangkaian kegiatan pembelajaran.
Perubahan kurikulum itu merupakan sesuatu yang nicaya, pasti, dan kebutuhan yang terus berkembang. Kurikulum harus menjadi wahana yang efektif untuk mewujudkan kondisi yang idealisasi dengan kondisi kekinian.
Kurikulum tidak dapat dipatok harus berlaku 10 tahun atau 15 tahun. Kurikulum bersifat dinamis dan terus berkembang, dan wajib mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Persoalan kurikulum itu dipakai untuk waktu tertentu, karena masih dianggap relevan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan aspek teoretis berkembangnya ilmu pengetahuan dan aspek empiris implementasi dan manajemen kurikulum. Selain itu, persepsi masyarakat terhadap output pendidikan juga harus diakomodasi secara memadai.
Model evaluasi kurikulum juga tidak bisa dipatok secara kuantitatif semata, tetapi harus menggabungkan aspek kualitatif. Pengembangan kurikulum 2013 didasarkan pada aspek filosofi, yuridis, dan konseptual serta praktik selama ini.
Kurikulum bukan kitab suci yang tidak dapat diubah-ubah. Kurikulum adalah instrumen (alat) untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai alat, penggunaannya sangat tergantung pada sumber daya manusia. Yang lebih penting lagi, tujuan universal pendidikan adalah mewujudkan manusia seutuhnya yang meningkatkan harkat dan martabatnya. Pendidikan bukan sekadar meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga terampil untuk pembangunan fisik, tetapi lebih kepada pembentukan sikap mental dan karakter yang menjadi fondasi bagi kehidupan siswa di masa depan.
Tantangan di masa depan juga semakin canggih, kompleks dan menuntut respon perubahan. Respon berupa perubahan kurikulum merupakan langkah strategis yang dapat ditempuh pemerintah sebagai pengemban amanat undang-undang.
Uji publik rencana perubahan kurikulum merupakan ajang untuk curah pendapat untuk perbaikan. Uji publik telah mendapat berbagai masukan dan pandangan dari banyak kalangan. Ada kelompok yang menyarankan agar rencana perubahan kurikulum ditunda dengan alasan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan yang sekarang berlaku masih relevan dan belum dilaksanakan sepenuhnya.
Kelompok lain yang menolak dengan argumentasi bahwa perubahan kurikulum tidak didasarkan kajian yang matang dan menjadi ajang mengeruk keuntungan. Lebih ekstrem lagi, rencana perubahan kurikulum dianggap sangat bermuatan politis dan liberalisasi pendidikan yang pada akhirnya melenceng jauh dari tujuan pendidikan.
Contohnya, penggabungan mata pelajaran IPA dan IPS di jenjang sekolah dasar, yang dikhawatirkan menghasilkan siswa yang tidak peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Siswa kita akan tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan yang menjadi dasar berkembangnya teknologi. Di sisi lain kelemahan terhadap basis pengetahuan dan teknologi menjadi penghambat dalam penguasaan bidang lainnya.
Kekhawatiran ini akan berlanjut pada asumsi ketika siswa Indonesia tertinggal dalam pengetahuan yang menjadi fondasi kemajuan teknologi maka bangsa kita akan menjadi pasar bagi produk-produk teknologi dari luar negeri.
Argumentasi yang melandasi rencana diterapkannya kurikulum baru antara lain adanya kesenjangan kondisi riil saat ini dengan kondisi ideal dalam berbagai dimensi. Keterpautan antara tujuan pendidikan dengan isi mata pelajaran dan kompetensi yang diharapkan juga belum begitu kental. Selama ini pembelajaran masih belum sepenuhnya berpusat pada siswa dan pembelajaran belum berkembang pada kebermaknaan prosesnya.  Model evaluasi juga belum sepenuhnya mengakomodasi kualitas proses dan masih menekankan pada hasil.
Meskipun rencana perubahan kuriklum itu menuai pro dan kontra, dan belum mendapat dukungan sepenuhnya dari DPR, dapat diperkirakan bahwa perubahan kurikulum akan tetap melaju dan diterapkan tahun 2013.  Mengapa? Karena perubahan kurikulum adalah domain pemerintah.
Sebagai sesuatu yang pasti, perubahan menghadapi tantangan dari individu maupun kelompok yang belum melihat visi jauh ke depan atau masih berkutat pada kondisi kekinian tanpa langkah strategis dan taktis. Apalagi pribadi-pribadi tertentu yang telah merasa berada di zona nyaman dan merasa terancam statusnya.
Hal mendasar yang perlu dilakukan oleh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, terutama di tingkat operasional adalah mempersiapan diri terhadap pemberlakuan kebijakan dengan sikap terbuka dan mengikuti akselerasi yang diperlukan. Ketika kurikulum baru nanti dit erapkan pada guru harus mempersiapkan diri dengan model operasional yang baru. Manajemen sekolah juga harus menyiapkan berbagai perangkat dan sistem untuk itu.
Sumber daya manusia pengelola pendidikan harus mengikuti pelatihan, pembinaan, dan workshop untuk kurikulum baru. Hilangkan keraguan dan keterpakuan pada masa lalu. Ubah cara pandan ke depan dan menetapkan langkah-langkah taktis dan strategis.
Pemerintah juga perlu mensosialisasikan perubahan kurikulum itu secara sistematis dan terus menerus kepada semua pemangku kepentingan sampai tingkat terbawah. Masyarakat juga perlu terinformasi secara memadai terkait rencana diterapkannya kurikulum 2013. Semoga menjadikan pendidikan lebih baik. 

RSBI : RUSAK SUDAH BANGSA INI

Belum lagi reda debat tentang Kurikulum 2013, kini dunia pendidikan dihebohkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi yang memvonis bahwa proyek Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan Sekolah Bertaraf Internasional bertentangan dengan UUD 1945.

Kedua perkara itu menarik perhatian masyarakat luas terutama karena nalarnya dinilai tidak nyambung dan bertentangan dengan pemahaman umum tentang tujuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Salah satu di antara banyak pokok keberatan, baik terhadap Kurikulum 2013 maupun proyek RSBI/SBI, meskipun dimaksudkan untuk peningkatan kualitas, pada praktiknya penghapusan bahasa daerah dan penggunaan bahasa Inggris justru dinilai melemahkan jati diri bangsa.

Proyek pembuangan

Kritik lain terhadap proyek RSBI/SBI, yang lantas menjadikan sekolah eksklusif dan mahal, adalah melahirkan diskriminasi kaya-miskin dan meniadakan kewajiban negara menyelenggarakan pendidikan bermutu bagi seluruh warga negara.

Kehebohan ini untuk kesekian kali membuktikan bahwa pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tampaknya tak paham tentang arti dan tujuan pendidikan, apalagi dalam hubungannya dengan kebudayaan. Lahirnya berbagai keputusan yang aneh itu juga menunjukkan bahwa mereka tak paham fungsi Kemdikbud.

Satu-satunya hal yang mereka pahami tampaknya adalah bahwa ada dana triliunan rupiah yang harus segera digelontorkan. Untuk itu, dibuatlah berbagai program sebagai proyek pembuangan uang. Diberitakan, dalam kurun 2006-2010, Kemdikbud telah menyubsidi 1.172 RSBI/SBI dengan dana Rp 11,2 triliun! Proyek itu juga menyedot dana yang tak sedikit dari pemerintah daerah dan masyarakat. Untuk itu, kiranya Badan Pemeriksa Keuangan dan Komisi Pemberantasan Korupsi segera mengusut peruntukan dan aliran seluruh dana itu, serta menghukum berat para koruptor apabila ternyata mereka berpesta pora dalam proyek itu.

Hakim konstitusi Akil Mochtar seusai persidangan di Gedung Mahkamah Konstitusi pada 8 Januari lalu tegas mengisyaratkan bahwa kehadiran Pasal 50 Ayat (3) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dijadikan payung hukum bagi proyek RSBI/SBI terkesan dipaksakan.

”Undang-Undang Sisdiknas itu tidak memberikan penjelasan, tiba-tiba pasal itu muncul begitu saja sehingga (harus) dibatalkan,” kata Akil. Jadi, keberadaan norma dalam pasal itu tak memiliki penjelasan dalam pasal-pasal sebelumnya. Fakta adanya ”pasal siluman” ini mengingatkan pada berbagai modus kongkalikong antara eksekutif dan legislatif dalam sejumlah kasus korupsi. KPK harus turun tangan.

Rakyat sudah letih

Setelah MK menyatakan RSBI/SBI inkonstitusional dan harus dibubarkan, Mendikbud M Nuh secara normatif menyatakan menghormati dan akan melaksanakan keputusan MK. Namun, pada saat yang sama, ia menyerukan agar para guru dan siswa RSBI/SBI tetap berkegiatan seperti biasa. Hal serupa dinyatakannya terhadap keputusan Mahkamah Agung beberapa tahun lalu yang menyatakan bahwa ujian nasional harus dihentikan. Namun, hingga kini ia berkeras menyelenggarakan ujian nasional—suatu hal yang menunjukkan pembangkangan hukum.

Semua kemelut itu, selain membingungkan dan menyedihkan, bisa dimaklumi jika juga membangkitkan rasa apatis sekaligus amarah publik. Hendak dididik jadi apa sebenarnya bangsa kita? Sudah 67 tahun merdeka, tetapi pemerintah tak juga mampu merumuskan dan membuat desain besar pendidikan bangsa yang jelas, bernas, dan holistik. Sebuah kebijakan pendidikan yang bisa dipahami akal sehat dan mudah dilaksanakan di lapangan di semua unit pendidikan serta adil bagi seluruh rakyat.

Rakyat sudah letih menjadi bangsa pariah dunia yang moralnya ambruk oleh semeru korupsi, yang pemerintahannya begitu lemah tanpa visi, yang kementerian pendidikannya begitu limbung tanpa arah.

Kerusakan bangsa ini hanya bisa dihentikan jika, pertama-tama, Kemdikbud dan Kementerian Agama yang juga menangani institusi pendidikan sebagai mercusuar intelektualitas dan moralitas berhenti menjadi sarang koruptor. Kedua, Kemdikbud dan Kementerian Agama harus mengibarkan visi membangun manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak mulia, dan kukuh jati diri; serta misi membangun lembaga pendidikan nasional yang membuat anak didik bahagia belajar dan cinta belajar sepanjang hayat. Ketiga, semua pihak harus sadar bahwa semua itu tak akan mewujud jika tak dimulai dengan penanganan ekstra serius terhadap pendidikan anak usia dini!

Sumber : KOMPAS.com

Friday, December 14, 2012

Dika Sayang Ayah!


“Sudah berapa kali aku katakan, bawa jauh-jauh anak cacat itu dari hadapanku,” Seorang lelaki berkata kasar pada seorang perempuan dan anak kecil yang menangis dalam pelukannya, Perempuan itu memeluk erat anak semata wayangnya yg ketakutan.
“Cukup Ray, kau tak perlu berkata kasar seperti itu,”Perempuan itu berkata tak kalah keras membuat lelaki yg terduduk dikursi ruang tengah itu menatapnya tajam, kemudian perempuan itu melanjutkan perkataannya,”biar bagaimanapun juga, ingatlah dia anakmu.”
“Haha, jangan bermimpi aku tak sudi memiliki anak cacat sepertinya,”Lelaki itu menghisap rokok yang baru dinyalakannya dan mengacuhkan keduanya.
“Kau benar-benar tak berhati,”Perempuan itu berkata sambil membawa anaknya menjauh dari suaminya. Nampak wajah kecewa sang istri akan sikap suaminya itu.

Ray dan Ria adalah pasangan suami istri yang hidup berkecukupan yang menetap dijakarta, dua tahun menjalani rumah tangga, akhirnya hadir buah hati mereka ditengah kesunyian mereka, Andika Muhammad Navaro, atau Dika, ia lahir secara premature, dan saat lahirpun suatu keanehan terjadi, bayi mungil itu lahir tampa tangis, dan itu membuat Ria khawatir setelah melalui pemeriksaan ternyata anak mereka dinyatakan Bisu, sejak mengetahui bahwa Dika bisu, sikap Ray seketika berubah, entah malu atau apalah ia sama sekali tidak ingin mengakui Dika sebagai anaknya, walau begiitu Ria sangat menyangi Dika, baginya dika adalah Senyum untuknya.
Dika kini telah tumbuh menjadi anak yang tegar, usianya kini beranjak delapan tahun, walau bisu tapi ia tak pernah mengeluh, justru ia sangat ramah pada semua orang, hanya senyum yang selalu ia berikan pada mereka, senyumnya lebih dari sebuah kata yg terucap,Karena itu Dika sangat disayangi oleh para tetangga dan ia memiliki banyak teman.

Dengan berat hati Ria membawa Dika menjauh dari ayahnya,digenggmanya erat tangan dika yang kedinginan,Ria menuntun Dika berjalan kekamarnya dan membantunya berbaring diranjang, dengan cinta Ria mencium kening Dika yang mulai memejamkan matanya.
“Maafin mama Dika,apapun yang terjadi Dika harus selalu ingat, bahwa mama akan selalu ada disamping Dika,menjadi seseorang yg selamanya menyayangi Dika,” Ria meneteskan air matanya sambil terus mengelus rambut hitam Dika yang mulai tertidur.

***
Dika berjalan seorang diri menuju Ruang tengah, malam ini seperti malam sebelumnya ia tak bisa tidur cepat,padahal waktu telah menujukkan pukul setengah sepuluh malam, tapi matanya masih sulit ia pejamkan, karena itu ia lebih memilih untuk menuntun televiisi saja diruang tengah.
Seketika langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya tertidur pulas di depan televisi, Dika mengampirinya dan menatapnya dalam-dalam, seketika senyum terurai dari bibir tipisnya.
“Ayah Dika ganteng yah Tuhan,” hati kecil Dika berkata sambil menatap ayahnya yang tertidur pulus diruang tengah.
Dika menatap sekeliling mencari sesuatu,tapi Dika berjalan balik kearah kamarnya dan kembali lagi keruang tengah dengan selimut ditangannya.
Pelan-pelan Dika menyelimuti sang Ayah yg masih tertidur, lalu dika membersihkan beberapa bedu rokok yang terjatuh dilantai dan membuangnya keasbak dimeja samping.
Sudah beberapa minggu terakhir ini, Ray lebih memilih untuk tidur diruang tengah ketimbang dikamarnya bersama Ria, sepertinya keduanya masih saling marahan dan enggan meminta maaf. Dika tak tau mengapa sang ayah selallu tidur diruang tengah, saat ia mencoba menanyakan itu pada ibunya, dengan lembut ibunya menjawab,”Ayahmu harus mengerjakan beberapa pekerjaan, dan ia tak ingin mengganggu tidur ibu, karena itu ia selalu tertidur diruang tengah, karena kelelahan.”

Diary Dika (8thn)
Tuhan,mengapa tuhan menciptakan dika jika dika tak sempurna seperti mereka??
Dika tau Dika tak boleh menyesali apa yang telah dika miliki,bunda selalu ngajarin Dika agar selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki,walaupun itu tak seindah milik orang lain.
Dika gak sedih kok tuhan, Tuhan bisa lihat dika tersenyum sekarang, ini tulus loh ?
Kalau dika sedih, bunda pasti sedih, karena itu dika akan selalu tersenyum didepan Bunda.
Tapi tuhan, apa suatu saat nanti ayah akan mencintai Dika,?
Kalau iya, kapan?
Dika udah gak sabar pingin ngerasain dipeluk ayah,dianterin ayah sekolah, dan main bola bareng ayah seperti anak lainnya.
Suatu saat nanti itu semua akan terwujudkan Tuhan??
Walaupun ayah benci Dika, sampai kapanpun Dika akan selalu mencintai ayah.

Dika sayang ayah..
***
Diary Dika (9THN)
Tuhan apa segitu bencinya ayah sama Dika,?
Lalu kenapa ayah begitu membenci Dika??
Apa Dika punya salah sama ayah, kalau iya Dika akan tulus minta maaf kok,Kalau memang kehadiran Dika buat ayah susah, Dika rela kok tinggal bareng tuhan,ambil ajah nyawa Dika, asal ayah gak benci lagi sama Dika.
Dika mau sekali ajah ayah peluk Dika saat dika ketakutan dan bantuin Dika ngerjain PR yang menurut Dika susah.
Tuhan apa mimpi Dika akan terwujud??

“Dika, kamu butuh uang untuk beli sesuatu?”Tanya Ria sambil menatap Dika yang mengangguk.
Ria menghentikan memotong sayur dan menatap Dika yang berdiri disampingnya.
“Memang uang itu untuk apa?”Tanya Ria lembut membuat Dika terdiam sejenak.
“A..A..A..” Dika mencoba menjawab pertanyaan sang bunda membuat Ria menatapnya gemas.
Ria tersenyum tipis mencoba mengerti apa yang ingin diutaran Dika,”Kamu butuh berapa?”Ria menatap Dika yang mulai berhitung dengan jemari tangannya.
Dika mengangkat lima jari tangan kanannya keatas dada dan bulatan dijari tangan kirinya,” i..aa.. a…us..”
Ria mencoba menerka angka yg tercipta dijemari keduatangan Dika,”Lima ratus ribu?” Tanya Ria membuat Dika mengangguk cepat.

Ray mencari sepatu hitamnya dideretan sepatu yang terpanpang disudut ruangan..
“Ria, sepatu kerjaku Mana?” Tanya Ray setengah berteriak pada Ria yg sedang memasak didapur,
Terdengar samar2 sahutan dari dapur,” Bukannya sepatu kerja kamu udah rusak,”
Jawaban Ria itu membuat Ray menarik nafas panjang.. bagaimana ia bisa lupa, untuk membeli sepatu kerja yang baru, kalau begini bagaimana bisa ia berangkat kekantor.
“U..at.. a..yah…” Dika menyodorkan sebuah kotak sepatu ke arah Ray yg menatapnya tajam.
Ditatapnya kardus sepatu hitam yg kini berpindah ketangannya.
“nyuri dimana kamu?” Pertanyaan Ray membuat Dika mengelengkan wajahnya cepat.
“I..KA.. A..U..LI..” Kata2 Dika membuat Ray menatapnya tajam.
Seketika sebuah tamparan mendarat tepat dipipi putih Dika,” sejak kapan, kamu belajar jadi pencuri huh?” teriak Ray keras membuat Dika menunduk.
“Ray, apa-apan kamu,” Ria menghampiri keduanya dan menatap dika yg menunduk.
“Liat anak kamu, masih kecil udah belajar jadi pencuri,” Ray mendorong tubuh kecil dika hingga terjatuh.
“Cukup Ray, jaga kata2 kamu, Dika gak mungkin mencuri.”
“Kalau begitu dari mana, dia bisa dapat uang sebanyak itu buat beli sepatu, huh?”
Ria menahan amarahnya dan membantu Dika berdiri,”asal kamu tau, uang itu aku yang kasih, dan aku gak pernah menyangka kalau uang yg aku kasih itu dika gunakan untuk membeli sepatu kerja untuk kamu,”
Ray menatap Ria tajam yg masih bicara.
“Dan kamu tau berapa harga sepatu itu, lima ratus Ribu, aku hanya memberi dika tiga ratus ribu dan sisanya Dika ambil dari uang tabungan dia, dika rela gak jadi beli robot-robotan demi beliin sepatu kerja baru buat kamu, dan kamu masih bisa-bisanya bilang kalau dika itu pencuri.”
Ray mengembalika kardus sepatu ketangan Ria,” hari ini aku bolos kerja, dan bilang sama anakmu, berhenti bersikap baik padaku, karena aku tak butuh semua itu,” Ray berkata sambil berlalu dari hadapan Ria dan Dika. Ria mengelus pelan pipi Dika yg seketika memerah akibat tamparan Ray.
“Maafin ayah kamu yah?”
Dika hanya mengangguk dan lagi-lagi ia tersenyum. Dika adalah senyum kebahagian Ria, sekarang dan selamanya.

***
Diary Dika (10thn)
Tuhan, hari ini Dika kenaikan kelas,Dika senang banget karena dika juara kelas,makasih yah tuhan, karena tuhan dika jadi semakin disayang sama bunda. Walaupun ayah gak datang waktu pembagian rapot,tapi Dika cukup senang kok, setidaknya nanti dirumah Dika bisa kasih tunjuk ayah nilai rapot Dika. Biar ayah bangga dan gak benci lagi sama Dika.

“Bunda bangga sama kamu Dika,”Ria berkata sambil menciumi rambut hitam Dika. Dika tersenyum senang.
Mereka telah tiba dirumah, tak sabar rasanya Dika ingin memberitaukan ayahnya bahwa ia juara kelas.
Dika mencari ayahnya disemua ruangan tapi ia tak mendapati Ray dimanapun, Dika terduduk sedih diruang tengah.
“Tuhan ayah Dika dimana?, kenapa ayah pergi padahalkan Dika mau ngasih tunjuk ayah hasil rapot Dika..” Dika menatap sedih rapot merah ditangannya.
Tak beberapa lama, Ray tiba dari arah timur, Dika tersenyum menyamut kedatagan sang ayah yang telah dinantinya sedari tadi.
Dika berdiri dari duduknya, ditaruhnya rapotnya dimeja samping, Dika menyalami tangan sang ayah yang menatapnya tajam, dituntunnya sang ayah higga tepat didepan kursi panjang.
Ray terduduk, espresi wajahnya masih datar, Dika membantunya membukakan sepatu dan juga jas yang Ray kenakan.
Dika berlalu dengan memegang sepasang sepatu ditangan kanannya dan jas hitam ditangan kirinya, mencoba menaruh jas dan sepatu itu ditempat biasa.
Sepergian Dika, Ray menatap Rapot merah disampignya. di raihnya rapot itu dan mulai memperhatikan setiap nilai yang tertera disana.
Tak ada nilai merah satupun, tapi tetap saja espresinya tak berubah.
Dika kembali degan secagkir kopi ditangannya, cangkir itu seraya ia letakkan diatas meja. Dika menatap sang ayah yang sedang memeperhatikan nilai Rapotnya, iapun tersenyum senang.
“Tuhan, sebentar lagi pasti ayah Dika bakal bangga sama Dika,” hati kecilnya berkata riang, tak sabar ia menunggu sang ayah mengatakan sesuatu untuknya.
Ray menutup Rapot ditangannya dan menatap Dika yang telah anteng duduk disampingnya.
“Kamu nyontek lagi?” pertanyaan Rya itupun seketika membuat Dika menggeleng.
Ria tiba menghampiri sang suami dan anaknya, “Ray, kamu gak ucapin selamat buat Dika?” Ria berdiri didepan Ray yang masih terduduk, sebetika Ray menatapnya tajam.
“Untuk apa, tak ada yang perlu dibanggakan dari hasil sebuah contekan.” Ray meraih sebutung rokok dari kemeja putihnya. Ria menatapnya geram.
“Dika tidak menyontek,nilai itu hasil kerja keras dia sendiri,” Bela Ria keras.
Dika menunduk, harapannya untuk membuat ayahnya bangga ternyata gagal lagi.
Setiap tahun memang selalu itu yang ray katakan, saat Dika mendapat nilai plus.
Mencontek??? Ray selalu bertanggapan bahwa hasil plus yang didapatkan Dika adalah hasil contekan,
“Dia itu Bisu, gak mungkin dapat nilai plus kalau tidak hasil contekan,” Timbal Ray lagi,

***
Dika terduduk dibangku panjang lapangan sekolahnya.. ditatapya sekeliling, diriya yag tak sempurna dalam berucap, membuat sang bunda menyekolahkannya disekolah khusus anak-anak tak sempurna sepertinya atau lebih dikenal dengan sebutan sekolah luar biasa.
Anak-anak itu sama sepertinya, sebagian ada yang bisu, atau mungkin keterbelakangan mental, tapi satu yang membuat Dika sedih, megapa mereka masih bisa tersenyumm riang dan bercada gurau bersama sang ayah, sementara dirinya tidak??
Sebuah bola bundar dipeluknya erat, sesekali ia megkrucutkan bibirnya, ia ingin seperti mereka bermain bersama sang ayah dan tertawa riang..
“Ayah, wahyu gak bisa,” Seorang anak dengan tongkat ditangannya sebagai penyaggah kakinya yang tak sempurna atau lumpuh berkata pada sang ayah yang sedang mengajarinya menendang bola dengan kaki kirinya.
“Kalau wahyu berusaha pasti wahyu bisa,ayah selalu disini untuk Wahyu,” sang ayah tak henti-hentinya menyemangati sang anak yang mengangguk.
Wahyu berusaha mecoba, menendang bola didepannya dengan kaki kirinya, tapi bola itu tak bergerak dan justru Wahyu yang terjatuh.
“Wahyu!!” Sang ayah menghampiri sang anak cemas, diraihnya tangan mungilnya dibantunya berdiri, kemudian sang ayah mengobati luka dilutut kaki wahyu yang kesakitan.
Dika mengalihkan padangannya, menengok kekiri, pemadangan itu hanya membuatnya iri.
“Cinta ingin ice Krim?”
Lagi-lagi kemesraann ayah dan anak terlihat jelas didepan matanya.
Anak perempuan seusianya yang tak dapat melihat hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan sang ayah yang meggenggam tangannya.
“Dua yah, stawberry dan vanila,” Cinta berkata Riang pada sang ayah yang tersenyum.
Lagi-lagi Dika membuang nafasnya berlahan, setiap hari memang inilah yang selalu dilihatnya setiap kali tiba disekolah.
Tuhan, kapan Dika bisa seperti ,mereka, bermain bola bersama ayah dan ayah membelikan Dika ice krim??
Apa Dika dosa tuhan, jika Dika iri sama mereka???

Dika melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar orangtuanya, bola bundar itu masih dalam dekapannya, rencananya Dika ingin mengajak sang ayah bermain bola, siapa tau kali ini ayahnya tak menolak seperti kemarin-kemarin.
Dika telah tiba didepan pintu kamar, menatap kedalam ruangan yag kebetulan terbuka, dilihatnya sang bunda dan ayahnya yang sedang berdebat. Dika terdiam dan mendengarkan setiap kkata yang mereka debatkan.
“Sampai kapan kau akan sekejam itu pada Dika, ingatlah Ray dia itu anakmu,” Ria berkata keras, ia menatap Suaminya yang berdiri memebelakanginya.
Kedua tangan Ray ia tekuk da letakka didada, “Sudah berapa kali aku katakan, anak bisu itu bukan anakku.”
Mata Dika berkaca-kaca saat pendengar perkataan Ray itu, Bola dalam genggamannyapun terjatuh seketika.
“Tapi Dika sangat mencintaimu, aku mohon jangan lukai Dika lagi Ray,” Suara Ria mulai bergetar, tapi Ray tak peduli, hati dan perasaannya tetap enggan mengakui Dika sebagai anaknya.
“Aku tak butuh semua perhatiannya, Dia itu bisu, apa yang bisa kubanggakan dari anak bisu sepertinya, dia hanya membuatku susah.”
“Ray, kau sungguh tak berhati.” Ria mengepalkan tangannya kesal, ingin sekali ia meampar wajah suaminya itu, tapi ia tak mampu.
“Katakan padanya untuk berhenti bersikap baik padaku, aku tak akan mencintainya sebelum ia benar-benar bisa berbicara.”

Diary Dika
Tuhan, sekarang Dika sadar kenapa ayah benci Dika, karena Dika bisu, benarkan Tuhan??
Ayah malu punya anak bisu macam Dika, ayah akan mencintai Dika jika dika udah bisa berbicara.
Dika bisu dan dika sadar selamanya Dika tak akan pernah bisa bicara.
Itu berarti selamanya ayah tak akan sayang sama Dika.
Tapi tunggu, bukankah keajaiban itu ada??
Tuhan, Dika pingin banget bisa bicara, dan bilang kalau Dika sayang ayah dan bunda.
Sehari ajah tuhan, Dika mohon.setelah itu dika bisu lagi juga gak apa2
Asal ayah bisa dengar kalau dika sayang ayah..
Dika percaya keajaiban karena Dika percaya Tuhan itu ada..

***
“Bagaimana keadaan putra saya Dok?” Tanya Ria pada seorang Doktor yang menangani Dika.
Satu jam setelah Dika mencurahkan perasaannya pada Tuhan, ia merasakan sakit dikepalanya, karena tak ingin membuat sang bunda cemas, Dika memilih untuk tak menceritakan semuanya.
Dika membaringkan tubuhnya diranjang, sakit dikepalanya semakin terasa, ia menutup matanya berlahan, sebelum semuanya hitam dan gelap, Dika pingsan.

“Kondisi putra ibu sangat mengkawatirkan, putra ibu terkena tumor otak, dan kemungkinan sembuh sangatlah minim,”
Seketika tubuh Ria melemas mendengar pengakuan sang doktor, bagaimana bisa anaknya yang masih sangat kecil terserang penyakit mematikan seperti ini.

Ria terduduk disamping ranjang Dika, ditatapya Dika yang tertidur pulas, mungkin ia sangat lelah.
Ria mengelus lembut rambut hitam Dika, air matanyapun tak kuasa ia teteskan.
“Dika jangan takut, semuanya akan baik-baik saja, Bunda akan selalu disamping Dika sampai kapanpun, kalaupun nanti Dika pergi, Dika gak usah cemas, disana Tuhan pasti akan menjaga Dika, apapun yang dika minta pasti Tuhan beri,tapi Dika harus tetap kuat dan tersenyum.” Ria menghapus air matanya yang terjatuh, dengan lembut diciumnya kening Dika yang dingin.
“Bunda sayang Dika.”
Matanya memang terpejam tapi dengan jelas Dika mendengar setiap kata yang diucapkan sang bunda.

Diary Dika
Tuhan tumor otak itu apa?
Apa penyakit itu sangat parah??
Kalau tidak, kenapa bunda nangis waktu cerita tentang penyakit Dika?
Kenapa Doktor bilang sama bunda, umur Dika gak akan lama lagi??
Apa itu berarti Dika akan pergi??
Pokoknya Dika gak mau pergi, sebelum ayah sayang sama Dika.
Titik…

***
Dengan perasaan tak menentu, Ray melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah Dika, matanya menatap sekeliling, menyaksikan beberapa orangtua yang menunggu anaknya pulang sekolah.
Ini kali pertama ray menyembut Dika sepulang sekolah, kalau saja Ria tak meohon padanya dan menangis mungkin selamanya ia tak akan pernah menginjakkan kakinya disekolahh yang penuh dengan ketidaksempurnaan.
“Kamu pasti ayahnya Dika?” seorang perempuan seusia Ria berdiri didepannya, Ray mengangguk pelan.
“Tau dari mana?” tanyanya bingung.
Wanita itu tersenyum tipis, “Saya Lisa, gurunya Dika, dika cerita banyak tentang ayahnya yang tampan dan baik hati.”
Ray menghernitkan keningnya bingung, tampan dan baik hati, bagaimana bisa dika berkata seperti itu, mengingat dirinya yang selalu kasar pada Dika.
“Dika Bisu, dia gak mungkin mengatakan saya baik dan tampan.”
“Dika memang bisu, tapi dia tidak buta,” Lisa meraih sesuatu dari tas hitamnya, secarik kertas putih yang langsung ia sodorkan pada Ray.
“Dika selalu menulis dikertas itu, saat ingin berkomunikasi dengan saya.”
Berlahan Ray membacanya.

[Bu guru ayah Dika tampan Loh, gak kalah dech ama david bekam,,
Selain itu ayah dika juga baik loh bu, walaupun ayah gak pernah nganter Dikka sekolah, tapi Dika tau suatu saat nanti pasti ayah mau jemput Dika pulang sekolah, terus main bola bareng Dika dan beliin Dika es krim...
Bu guru nanti kalau ketemu sama ayah Dika, bu guru gak boleh naksir yahh, Dika tau bu guru pasti jatuh cinta ama ayah dika yang ganteng dan baik, tapi ayah Dika udah punya bunda, bunda dan ayah akan selalu selamanya,,,
Bu guru, Dika sayang banget sama mereka... Dika pingin selamanya disisi mereka..
Disisi bunda Dika yang cantik dan ayah Dika yang baik dan ganteng...
Oh yah, Dika mau ucapin makasih ama bu guru, yang udah setia degerin setiap cerita Dika..
Dika juga sayang bu guru, nanti kalau Dika pergi, bu guru jangan lupain Dika yah, dan maaf kalau Dika punya banyak salah sama ibu.
bu guru, nanti kalaiu Dika benar-benar pergi, bu guru jangan cerita sama ayah yah, kalau Dika sering cerita tentang ayah, Dika gak mau ayah marah dan benci Dika,
Ini cukup jadi rahasia kita yah bu, Dika percaya sama bu guru.
Bu guru percayakan ayah Dika ganteng dan baik???]

Entah mengapa setelah membaca semua yang dituliskan Dika diselembar kertas putih itu, air mata Ray seketika terjatuh.
Ini kali pertama Ray menangis, dan ia menangis karena Dika, mungkinkah ia telah menyadari kesalahan besar yang selama ini ia lakukan pada Dika??
Ia mengkapus air matanya, melipat kertas putih itu dan mengembalikannya pada Lisa yang langsung menerimanya.
“Saya tau, anda selalu kasar pada Dika, tapi saya salut, sebesar apapun anda membencinya, sedikitpun Dika tak pernah membenci anda, seharusnya anda bangga pada Dika, Dia adalah malaikat kecil yang tak berdosa,” Lisa menatap kearah Dika yang berlari kearah keduanya, dika tersenyum senang mendapati ayahnya menjemputnya.
Dika segera memeluk Ray senang sesampainya disana, Ray terdiam tak bersuara.
Dika memang sering memeluknya seperti ini, tapi kali ini pelukan itu begitu hangat dan nyaman, berlahan Dika melepaskan pelukannya.
Dika menatap Lisa yang buru-buru measukka kertas ditangannya kembali ketas hitamnya, ia tersenyum tipis pada Dika yang mencoba menuliska sesuatu pada kertas kecil yang diraihnya dari saku seragamnya. Tak beberapa lama kertas itu telah berpindah ketangan putih Lisa.

[Bu guru, ayah Dika ganteng kan??]
Lisa tersenyum lebar saat mendapati apa yang dituliskan murid kesayangannya itu. Lisa mengembalikan kertas itu kembali pada Dika, setelah ia menulis balasan untuk Dika dikertas putih itu. Ray menatap keduanya yang masih berkomunikasi lewat kertas.
[Iya, ayah Dika tampan.. sangat tampan.]
[Iya sangat tampan dan baik, Dika bangga jadi anak ayah, sekarang teman-teman Dika pasti iri sama Dika , karena Dika punya ayah yang tampan dan baik.
[Mereka yang sehharusnya bangga memiliki anak sepertimu Dika, ibu bangga padamu.]
[Terimakasih, Dika sayang BU GURU.]
[Ibu juga sayang Dika.]
***
Sepajang perjalanan pulang, Rey terus menatap Dika yang berjalan disampingnya, senyuman senang tak pernah lepas dari bibirnya.
Dika melompat-lompat kecil, menendang pelan setiap krikil didepan kakinya, sesekali ia tersenyum pada sang ayah yang menatapnya tajam.
“Kamu kenapa?” Tanya Ray sembari berhenti dipinggir trotoar yang diikuti langsung oleh Dika.
Dika tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya, senyum manis masih menghiasi bibirnya.
Beberapa mobil dan kendaraan lainnya berlalu lalang didepan mereka, hingga lampu lalu lintas itu berubah warna merah, semua kedaraanpun terhenti..
Dika meyebrang santai disamping kiri Ray, Ray menatapnya sejenak, beberapa manusia ikut menyebrang bersama mereka, setibanya ditengah Ray mencoba meraih tangan Dika dan menggenggamnya.
Dika terdiam tak percaya, ini kali pertama sang ayah menggenggam tangannya, hati kecilnyapun berlonjak-lonjak kegirangan.
Hingga akhirnnya mereka sampai diseberang, sepanjang perjalanan tangan Ray tak pernah lepas dari jemari kurus Dika, merekapun tiba disebuah taman yang cukup besar, dan berhenti.
Taman ini memang selalu Dika lalui setiap kali pulang sekolah bersama bunda, dan taman inilah tepat Dika melepas kegundahan hatinya.
“Kamu mau ice krim?”Tanya Ray saat mendapati tukang Ice krim yang tak jauh dari tempat berdiri mereka, dengan cepat Dika mengangguk.
Ray melepas pegangan tangannya, “Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana!” seru Ray lagi pada Dika yang kembali mengangguk, Raypun segera berlalu menghampiri sang penjual ice krim.
Tak beberapa lama Ray tiba dengan ice krim coklat ditangannya, disodorkannya ice krim itu pada Dika sesampainya disamping anaknya. Dika meraihnya dan langsung menyantapnya. Untuk kali pertama Ray tersenyum tipis melihat Dika yang dengan lahapnya menyantap ICE Krim pemberiannya.Merekapun sempat bermain bola, sebelum kembali kerumah.
Entah mengapa hari ini sikap ray, sangat jauh berbeda, iapun tak malu megenalkan dirinya sebagai ayah Dika pd beberapa orang yang menanyakan mereka.
Dika tak menyangka apa yang ia impikan selama ini ternyata terwujud.

Dika terduduk dimeja belajarnya, kepalanya kembali terasa sakit, tapi ia tak peduli, ia berusaha menulis, mungkin itulah tulisan terakhirnya..
Tuhan, tadi ayah jemput Dika disekolah, Dika bahagia banget, teman-teman Dika pada iri kaarena ayah dikka ganteng.
Ayah juga bersedia main bola bareng Dika dan beliin Dika ice krim,
Pokoknya hari ini adalah hari terindah Dika.
Terimakasih tuhan, karena sekarang ayah Dika udah gakk benci lagi sama Dika.
Sekarang Dika udah siap pergi.

Dika berhenti menulis sejenak, mengurut kepalanya pelan dengan kedua tangan kecilnya.
Tuhan, kenapa kepala dika sakit banget, apa sekarang Dika benar-benar harus pergi??
Walaupun berat tapi dika terima kok, ini pasti yang terbaik untuk Dika.
Eh tapi tunggu, Dika mau nyampein dulu sesuatu.
Buat bunda, bunda adalah bunda terbaik diseluruh dunia,terimakasih untuk seMuanya.
Dika sayang sayang sayang banget sama bunda.
Dan untuk ayah, ayah taukan kalau dika sayang-sayang banget sama ayah,
Ayah janji yah gak akan ngelupain Dika.
Dika harus pergi karena Tuhan nunggu Dika disurga, apapun itu ayah harus tetap tersenyum dan jangan buat bunda Dika sedih yah..
DIKA SAYANG AYAH DAN BUNDA.
Permintaan terakhir Dika Cuma satu ya Tuhan…
Dika pingin banget punya adik, biar bisa nemenin bunda sama ayah dirumah.

Dika memang tak dapat bicara, cara inilah yang ia lakukan untuk dapat berkomunikasi dengan Tuhan-Nya,dan pada usia 11tahun2bulan10hari, Dika menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan senyum yang menghiasi wajah pucatnya.
Ray membaca semua yang ditulis oleh Dika pada diary biru itu,hatinya seketika tersentuh dan menyesali semua perbuatan kasarnya pada Dika.
Ray melihat gambar buatan tangan Dika dibagian akhir buku, lukisa seorang anak laki-laki yang bergandengan tangan dengan seorang lelaki bertubuh tinggi, dibawah gambar itu terdapat sebuah tulisan kecil…
Dika dan ayah…!!
Dika akan selalu menggenggam tangan ayah, sampai ayah tua nanti.

Ray tak kuasa meneteskan air matanya,bagaimanabisa ia menyia-nyiakan anak sebaik Dika.
Ditatapnya sekeliling kamar Dika yang kini seakan sepi, padahal biasanya setiap Ray pulang kerja ia selalu saja mendengar Dika yang sibuk menghafal kunci gitar, bayangan Dika tersenyum, tertawa berlari kecil megelilingi Ray, terliang jelas dimatanya.
Semuanya telah terlambat, dika telah pergi dan ia tak akan kembali lagi.
Ditaruhnya bbuku itu diatas meja belajar Dika, lalu Ray meraih kkotak sepatu yg sepat ia tolah dari Dika, ray terduduk dipinggir ranjang Dika, dan mecoba menjajalkan sepatu hitam itu, sedikit kebesaran memang, tapi Ray sangat menyukainya.

“terimakasih Dika untuk semuanya, dan maaf bila selama ini ayah selalu kasar sama kamu, ayah menyesal telah melakukan semua itu, mungkin ayah adalah orangtua terkejam didunia ini, seharusnya ayah yang menggandeng tangan Dika dan nganterin dika sekolah, tapi justru ayahlah yang selalu membuat Dika menangis, seharusnya ayah saja yang pergi, bukan kamu dika, jalan kamu masih panjang, asih banyak ,mimpi yang harus kamu raih, Ayah sayang Dika.kamu dengar itu Dika, AYAH SAYANG DIKA.”
Air matanya mengalir bersama dengan suaranya yang bergetar.
Walaupun terlambat,tapi Dika cukup bahagia, karena sekarang ia tau, bahwa ayahnya sangat menyayanginya.
Kini senyuman yg selalu menghiasi keluarga kecil itu telah pergi, hanya tinggal kenangan manis disana. When the Smile’s Gone, you never know where to found it again?

5THN Kemudian..
Doa terakhir dika untuk memiliki adik akhirnya terkabulkan, setengah tahun setelah kepergian Dika, Ria dinyatakan hamil, Sembilan bulan kemudian, Ria melahirka bayi prempuan yang sangat manis, yang selalu mereka panggil Diana.
Kini diana tubuh menjadi anak yang cukup lincah, wajahnya tak jauh beda dengan Dika, ia selalu menampakkan senyum dibibir tipisnya.
5tahun berlalu sudah, walau sulit, kenangan tentang Dika sedikit terlupakan dengan kehadiran Diana.
Tapi sampai kapanpun, Dika tetaplah senyum untuk Ria da Ray.

THE END
Cerpen Karangan: Qharieta Zavantra
Facebook: AtiQha Qharies Zavantra

Saturday, December 17, 2011

Konsep Dasar Manjemen Berbasis Sekolah


KONSEP DASAR MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH


Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemuikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman yunani kuno sampai kini (seperti Ulich, 1950).
A.       Aliran Kalasik dan Gerakan Baru dalam Pendidikan
Pemikiran-pemikiran tentang pendidikan yang telah dimulai pada zaman yunani kuno, dan dengan kontribusi berbagai bagian dunia lainnya akhirnya berkembang dengan pesat di eropa dan amerika serikat. Oleh karena itu, baik aliran-aliran klasik maupum gerakan-gerakan baru dalam pendidikan pada umumnya berasal dari kedua kawasan itu. Pemikiran-pemikiran itu tersebar keseluruh dunia termasuk indonesia, dengan berbagai cara seperti: dibawa oleh bangsa penjajah kedaerah jajahannya melalui bacaan, dibawa oleh orang-orang yang belajar ke eropa atau amerika serikat, dan sebagainya.
Aliran-aliran klasik yang meliputi aliran-aliran emperisme, nativisme, naturalisme dan konvergensi merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini dan mungkin yang akan datang.
Selanjutnya, terdapat berbagai gagasan yang lebih bersifat satu gerakan dalam pendidikan yang pengaruhnya masih tersa sampai kini, yakni gerakan-gerakan pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, dan pengajaran proyek.

1.     Aliran-aliran Klasik dalam Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia
Manusia merupakan makhluk misterius, yang mampu menjelajah angkasa luar, tetapi “ angkasa dalam”nya masih belum cukup terungkap; minimal para pakar dari ilmu-ilmu prilaku cenderung berbeda pendapat tentang berbagai hal mengenai prilaku manusia itu.
Strategi behavioral memandang manusia terutama sebagai makhluk pasif yang tergantung pada pengaruh lingkungan nya (Ingat tradisi ala J. Locke tabularasa), sedan strategi Phenomenologis memandang manusia sebagai makhluk aktif yang mampu beraksi dan melakukan pilihan-pilihan sendiri (Ingat tradisi ala G. Leibnitz: Munad). Bagi Locke “knowledge cumes from eksternal stimulation, that man is a receiver and transmiter” tetapi juga “Generator of information” dengan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA).
Perbedaan pandangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan pandangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai dari yang paling pesimis sampai optimis.

a.       Aliran Empirisme
   Aliran Empirisme bertolak dari locken Tradition yang mentingkan simulasi external dalam perkembangan manisia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungan sedangkan pembawaan tidak di pentingkan.
   Aliran Empirisme di pandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat. Meskipun demikian penganut aliran ini massih tampak  pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai mahluk yang pasif dan dapat di manipulasi umpama melalui modifikasi tingkah aku.
b.      Aliran Nativisme
Aliran Nativisme  bertolak dari liebnitian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak , sehingga faktor lingkungan  termasuk  faktor pindidkan

    Berbasis

Dalam kamus ilmiah, basis diartikan dengan dasar, pokok, atau pangkalan. Kemudian jika kita kaitkan dengan MBS, basis adalah manajemen yang dikelola berdasarkan kebutuhan sekolah itu sendiri. atau manajemen yang memang di sesuaikan dengan kemampuan sekolah tersebut.
      Sekolah
Sekolah adalah lembaga belajar dan mengajar sera tempat menerima dan memberi pelajaran. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai, tata usaha, dan murid-murid.
Definisi lain menyebutkan bahwa sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
Sebenarnya sekolah disini merupakan konsep yang luas, yang bisa mencakup semua aspek lembaga, baik lembaga formal maupun lembaga pendidikan non formal. Jadi, bukan hanya lembaga formal saja yang bisa dikatakan sekolah. Akan tetapi, lembaga pendidikan yang non formal juga bisa disebut sekolah. Karena sekolah pada hakekatnya adalah tempat seseorang menuntut ilmu. Jadi, dimanapun tempat orang itu menuntut ilmu, maka disanalah ia bersekolah.
      Manajemen berbasis sekolah
Manajemen berbasis sekolah adalah hasil terjemahan dari kata school based management. MBS merupakan suatu pemikiran yang baru dalam pendidikan, yang Memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi tersebut diberikan karena bertujuan agar sekolah mempunyai keleluasaan dalam mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.
Pada system MBS, sekolah tersebut dituntut untuk bisa mandiri dalam menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan, dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah.
Jadi, MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang memberikan sebuah penawaran kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik.

B.   Alasan dan Tujuan Diterapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
MBS yang ditandai dengan otonomi sekolah dan pelibatan masyarakat merupakan respon pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat, yang mana bertujuan untuk meningkatkan efesiensi, mutu, dan pemeratan pendidikan. Peningkatan efesiensi antara lain; diperoleh melalui keleluasaan mengolah sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibel pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah, berlakunya sistem insentif serta disensetif. Peningkatan pemerataan dapat diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan kerena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah.
Tujuan penerapan MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran, kurikulum, sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kapendidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Bagi sumber daya manusia, peningkatan kualitas bukan hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, melainkan meningkatkan kesejahteraan pula.
Dengan adanya penerapan MBS ini telah terjadi perubahan kebutuhan siswa sebagai bekal untuk terjun kedalam masyarakat luas di masa mendatang di banding  di masa lalu. Oleh karena itu palayanan kepada siswa, program pengajaran dan jasa yang diberikan kepada siswa juga harus sesuai dengan tuntutan baru tersebut. Secara umum perubahan lingkungan menuntut adanya pola kebiasaan dan tingkah laku baru oleh semua pihak.

Ada keuntungan dari adanya penerapan model MBS ini antara lain;
a.    Secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah.
b.    Meningkatkan moral, moral guru harus meningkatkan karena  adanya komitmen dan tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah.
c.     Keputusan yang diambil oleh sekolah memiliki akuntabilitas. Hal ini terjadi karena kostituen sekolah memiliki andil yang cukup dalam setiap pengambilan keputusan.
d.    Menyesuaikan sumber daya  keuangan terhadap tujuan instruksional yang dikembangkan di sekolah. Keputusan yang di ambil pada tingkat sekolah yang akan lebih rasional karena mereka tahu kekuatan sendiri, terutama kekuatan keunganan.
e.    Menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. Pengambilan keputusan ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpi.
f.      Meningkatkan kualitas, kuantitas, dan fleksibelitas komunikasi sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. Kebersamaan dalam pemecahan masalah di sekolah telah memperlancar alur komunikasi di antar warga sekolah.

C.   Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS)
1.    Memberikan kebebasan  dan kekuasan yang besar pada sekolah, disertai seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang di berikan memberikan tanggug jawab penegelolaan sumber daya dan pembegian strategi MBS sesuai dengan kondisi setempat.
2.    Sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih bekonsentrasi pada tugas.
3.    Keleluasan dalam mengelolah sumber daya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong profesionalisme kepada sekolah, dalam perannya sebagai manager maupun pemimpin sekolah.





5
4.    Dengan diberikan sekolah untuk menyusun kurikulum, guru didorong untuk berinovasi, dengan melakukan eksperimen-eksperementasi di lingkungan sekolahnya, ini mendorong profesonalisme guru dan juga kepala sekolah sesuai fungsinya.
5.    Melalui penyusunan kurikulum efektif, rasa tangkap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkatkan dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan peserta didik dan masyarakat sekolah.
6.    Prestasi peserta didik dapat dimaksimalkan melalui peningkatan partisipasi orang tua, seperti orang tua dapat mengawasi langsung proses belajar anaknya.

D.   Ciri-ciri atau Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

1.    Kewajiban sekolah mampu transparan, demokratis, tanpa monopoli dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, pemerintah.
2.    Kebijakan dan perioritas pemerintah sebagai penanggung jawab pandidikan nasional berhak memutuskan kebijakan yang menjadi parioritas nasional, (program buta huruf dan angka, efesiensi, mutu, dan pemeritah pandidikan)
3.    Peranan, partisipasi,orang tua dan masyarakat
4.    Peranan profesioanalisme dan manajerial, khususnya tingkah laku guru  dan kepala sekolah
5.    Pengembangan profesi tenaga kependidikan.
Adapun karakterstik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses belajar-mengajar, pengelolaan sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya dan administrasi.


Bahan Rujukan


 Prof. Dr. Suhaesimi arikunto dan Lia Yuliana, manajemen Pendidikan, Yogyakarta, Aditia Media Yogyakarta. 2008.
                  Pius A Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Popular, Surabaya, Arkola,1994
                               Yin Cheong Cheng, School Effectiveness&School-Based Manajement: A Mechanism For Development, Wsingthon D.C: the falmer press,1996
                               Drs. Nur kholis, M.M, Manajemen Berbasis Sekolah, Teori,Model,Dan Aplikasi,Jakarta,PT. Garasindo. 2003.
                               Dr. E. Mulyasa M.Pd, manajemen berbasis sekolah, konsep, strategi, dan implementasi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya. 2005.