KONSEP DASAR MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena
setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya
yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai
kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemuikiran-pemikiran tentang
pendidikan telah dimulai dari zaman yunani kuno sampai kini (seperti Ulich,
1950).
A.
Aliran Kalasik dan Gerakan Baru
dalam Pendidikan
Pemikiran-pemikiran tentang
pendidikan yang telah dimulai pada zaman yunani kuno, dan dengan kontribusi
berbagai bagian dunia lainnya akhirnya berkembang dengan pesat di eropa dan
amerika serikat. Oleh karena itu, baik aliran-aliran klasik maupum
gerakan-gerakan baru dalam pendidikan pada umumnya berasal dari kedua kawasan
itu. Pemikiran-pemikiran itu tersebar keseluruh dunia termasuk indonesia,
dengan berbagai cara seperti: dibawa oleh bangsa penjajah kedaerah jajahannya
melalui bacaan, dibawa oleh orang-orang yang belajar ke eropa atau amerika
serikat, dan sebagainya.
Aliran-aliran klasik yang
meliputi aliran-aliran emperisme, nativisme, naturalisme dan konvergensi
merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan
masa lalu, kini dan mungkin yang akan datang.
Selanjutnya, terdapat berbagai
gagasan yang lebih bersifat satu gerakan dalam pendidikan yang pengaruhnya
masih tersa sampai kini, yakni gerakan-gerakan pengajaran alam sekitar,
pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, dan pengajaran proyek.
1. Aliran-aliran Klasik dalam
Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia
Manusia merupakan makhluk
misterius, yang mampu menjelajah angkasa luar, tetapi “ angkasa dalam”nya masih
belum cukup terungkap; minimal para pakar dari ilmu-ilmu prilaku cenderung
berbeda pendapat tentang berbagai hal mengenai prilaku manusia itu.
Strategi behavioral memandang
manusia terutama sebagai makhluk pasif yang tergantung pada pengaruh lingkungan
nya (Ingat tradisi ala J. Locke tabularasa), sedan strategi Phenomenologis
memandang manusia sebagai makhluk aktif yang mampu beraksi dan melakukan
pilihan-pilihan sendiri (Ingat tradisi ala G. Leibnitz: Munad). Bagi Locke “knowledge
cumes from eksternal stimulation, that man is a receiver and transmiter” tetapi
juga “Generator of information” dengan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA).
Perbedaan pandangan tentang
faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan
pandangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai dari yang paling
pesimis sampai optimis.
a.
Aliran Empirisme
Aliran Empirisme bertolak dari locken Tradition yang mentingkan simulasi
external dalam perkembangan manisia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak
tergantung pada lingkungan sedangkan pembawaan tidak di pentingkan.
Aliran Empirisme di pandang berat sebelah sebab hanya mementingkan
peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sedangkan kemampuan dasar
yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan menurut kenyataan dalam
kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat. Meskipun
demikian penganut aliran ini massih tampak
pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai mahluk yang pasif
dan dapat di manipulasi umpama melalui modifikasi tingkah aku.
b.
Aliran Nativisme
Aliran Nativisme bertolak dari liebnitian tradition yang
menekankan kemampuan dalam diri anak , sehingga faktor lingkungan termasuk
faktor pindidkan
Berbasis
Dalam
kamus ilmiah, basis diartikan dengan dasar, pokok, atau pangkalan. Kemudian
jika kita kaitkan dengan MBS, basis adalah manajemen yang dikelola berdasarkan
kebutuhan sekolah itu sendiri. atau manajemen yang memang di sesuaikan dengan
kemampuan sekolah tersebut.
Sekolah
Sekolah
adalah lembaga belajar dan mengajar sera tempat menerima dan memberi pelajaran.
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kepala sekolah,
guru-guru, pegawai, tata usaha, dan murid-murid.
Definisi
lain menyebutkan bahwa sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk
melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
Sebenarnya
sekolah disini merupakan konsep yang luas, yang bisa mencakup semua aspek
lembaga, baik lembaga formal maupun lembaga pendidikan non formal. Jadi, bukan
hanya lembaga formal saja yang bisa dikatakan sekolah. Akan tetapi, lembaga pendidikan
yang non formal juga bisa disebut sekolah. Karena sekolah pada hakekatnya
adalah tempat seseorang menuntut ilmu. Jadi, dimanapun tempat orang itu
menuntut ilmu, maka disanalah ia bersekolah.
Manajemen berbasis sekolah
Manajemen
berbasis sekolah adalah hasil terjemahan dari kata school based management.
MBS merupakan suatu pemikiran yang baru dalam pendidikan, yang Memberikan
otonomi luas pada tingkat sekolah dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.
Otonomi tersebut diberikan karena bertujuan agar sekolah mempunyai keleluasaan
dalam mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai
dengan kebutuhan sekolah tersebut, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan
setempat.
Pada
system MBS, sekolah tersebut dituntut untuk bisa mandiri dalam menggali,
mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan, dan mempertanggungjawabkan
pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah.
Jadi,
MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang memberikan sebuah
penawaran kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan
memadai bagi para peserta didik.
B. Alasan
dan Tujuan Diterapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
MBS
yang ditandai dengan otonomi sekolah dan pelibatan masyarakat merupakan respon
pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat, yang mana
bertujuan untuk meningkatkan efesiensi, mutu, dan pemeratan pendidikan.
Peningkatan efesiensi antara lain; diperoleh melalui keleluasaan mengolah
sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sementara
peningkatan mutu dapat diperoleh melalui partisipasi orang tua terhadap
sekolah, fleksibel pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme
guru dan kepala sekolah, berlakunya sistem insentif serta disensetif.
Peningkatan pemerataan dapat diperoleh melalui peningkatan partisipasi
masyarakat yang memungkinkan kerena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa
kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah.
Tujuan
penerapan MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu
menyangkut kualitas pembelajaran, kurikulum, sumber daya manusia baik guru
maupun tenaga kapendidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara
umum. Bagi sumber daya manusia, peningkatan kualitas bukan hanya meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya, melainkan meningkatkan kesejahteraan
pula.
Dengan
adanya penerapan MBS ini telah terjadi perubahan kebutuhan siswa sebagai bekal
untuk terjun kedalam masyarakat luas di masa mendatang di banding di masa
lalu. Oleh karena itu palayanan kepada siswa, program pengajaran dan jasa yang
diberikan kepada siswa juga harus sesuai dengan tuntutan baru tersebut. Secara
umum perubahan lingkungan menuntut adanya pola kebiasaan dan tingkah laku baru
oleh semua pihak.
Ada
keuntungan dari adanya penerapan model MBS ini antara lain;
a.
Secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang
bekerja di sekolah.
b.
Meningkatkan moral, moral guru harus meningkatkan karena adanya komitmen
dan tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah.
c.
Keputusan yang diambil oleh sekolah memiliki akuntabilitas. Hal ini terjadi
karena kostituen sekolah memiliki andil yang cukup dalam setiap
pengambilan keputusan.
d.
Menyesuaikan sumber daya keuangan terhadap tujuan instruksional yang
dikembangkan di sekolah. Keputusan yang di ambil pada tingkat sekolah yang akan
lebih rasional karena mereka tahu kekuatan sendiri, terutama kekuatan
keunganan.
e.
Menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. Pengambilan keputusan ini
tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpi.
f.
Meningkatkan kualitas, kuantitas, dan fleksibelitas komunikasi sekolah dalam
rangka mencapai kebutuhan sekolah. Kebersamaan dalam pemecahan masalah di
sekolah telah memperlancar alur komunikasi di antar warga sekolah.
C. Manfaat
Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS)
1.
Memberikan kebebasan dan kekuasan yang besar pada sekolah, disertai
seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang di berikan memberikan
tanggug jawab penegelolaan sumber daya dan pembegian strategi MBS sesuai dengan
kondisi setempat.
2.
Sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih
bekonsentrasi pada tugas.
3.
Keleluasan dalam mengelolah sumber daya dan dalam menyertakan masyarakat untuk
berpartisipasi, mendorong profesionalisme kepada sekolah, dalam perannya
sebagai manager maupun pemimpin sekolah.
5
4.
Dengan diberikan sekolah untuk menyusun kurikulum, guru didorong untuk
berinovasi, dengan melakukan eksperimen-eksperementasi di lingkungan
sekolahnya, ini mendorong profesonalisme guru dan juga kepala sekolah sesuai
fungsinya.
5.
Melalui penyusunan kurikulum efektif, rasa tangkap sekolah terhadap kebutuhan
setempat meningkatkan dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan
peserta didik dan masyarakat sekolah.
6.
Prestasi peserta didik dapat dimaksimalkan melalui peningkatan partisipasi
orang tua, seperti orang tua dapat mengawasi langsung
proses belajar anaknya.
D. Ciri-ciri
atau Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
1.
Kewajiban sekolah mampu transparan, demokratis, tanpa monopoli dan bertanggung
jawab terhadap masyarakat, pemerintah.
2.
Kebijakan dan perioritas pemerintah sebagai penanggung jawab pandidikan
nasional berhak memutuskan kebijakan yang menjadi parioritas nasional, (program
buta huruf dan angka, efesiensi, mutu, dan pemeritah pandidikan)
3.
Peranan, partisipasi,orang tua dan masyarakat
4.
Peranan profesioanalisme dan manajerial, khususnya tingkah laku guru dan
kepala sekolah
5.
Pengembangan profesi tenaga kependidikan.
Adapun
karakterstik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat
mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses belajar-mengajar, pengelolaan
sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya dan administrasi.
Bahan Rujukan
Prof. Dr. Suhaesimi arikunto dan Lia Yuliana, manajemen
Pendidikan, Yogyakarta, Aditia Media Yogyakarta. 2008.
Pius A Partanto dan M. Dahlan
Al-Barry, Kamus Ilmiah Popular, Surabaya, Arkola,1994
Yin Cheong Cheng, School
Effectiveness&School-Based Manajement: A Mechanism For Development,
Wsingthon D.C: the falmer press,1996
Drs. Nur kholis, M.M, Manajemen Berbasis
Sekolah, Teori,Model,Dan Aplikasi,Jakarta,PT. Garasindo. 2003.
Dr. E. Mulyasa M.Pd, manajemen berbasis
sekolah, konsep, strategi, dan implementasi, Bandung, PT. Remaja
Rosdakarya. 2005.

