MAKALAH
Keterampilan Berbahasa Indonesia SD
Dosen Pembimbing :
Sri
Normuliati, M.Pd
“Kelompok 2”
Muhammad Andrie
Muhammad Azwa
Umi Rosidah
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Achmad Yani Banjarmasin
2012
Kata
Pengantar
Puji syukur
Tuhan Yang Maha Esa, berkat karunia dan hidayah-Nya sehingga makalah yang kami
buat ini dapat di selesaikan dengan baik. Yakni mengenai materi yang telah kami
dapatkan dalam tugas kelompok kami adalah
“Keterampilan Berbahasa Indonesia di SD”.
Kemudian
kami ucapkan terima kasih kepada Ibu dosen “Keterampilan Berbahasa Indonesia di SD” Sri Normuliati, M.Pd yang telah banyak
memberikan berbagai macam bimbingan Sehingga kami telah menyelesaikan
penyusunan makalah ini. Dan tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada
teman-teman sekalian yang sudah memberikan masukan dan semangat sehingga
makalah ini telah selesai.
Tujuan utama
penyusunan makalah ini adalah untuk membantu kita dalam mempelajari pokok
pembahasan secara efisien dan efektif. Dengan demikian, Diharapkan agar kita
memahami semua materi dengan baik dalam waktu relatif singkat. Meskipun masih
banyak terdapat kekurangan dalam makalah ini, namun kami berharap, makalah ini
dapat mempermudah proses pembelajaran kita dan mengingatkan kita kembali kepada
pengetahuan yang telah didapat selama proses pembelajaran.
Banjarmasin, 20 September 2012
i
DAFTAR ISI
Kata
Pengatar ................................................................................................................................................................ i
Daftar Isi ........................................................................................................................................................................... ii
Bab I
Pendahuluan
a.
Latar Belakang ...................................................................................................................................... 1
b.
Batasan Masalah .................................................................................................................................. 1
c.
Tujuan Masalah .................................................................................................................................... 1
Bab II Isi
a.
Pengertian
Menyimak ....................................................................................................................... 2
b.
Proses
Menyimak ................................................................................................................................. 3
c.
Suasana Menyimak ............................................................................................................................. 4
d.
Faktor yang Mempengaruhi Menyimak ................................................................................ 5
Bab III
Penutup
d.
Kesimpulan ............................................................................................................................................. 8
e.
Daftar
Pustaka ...................................................................................................................................... 9
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Pada dasarnya pemahaman anda akan membahas Pengertian Menyimak, Proses Menyimak, Suasana Menyimak, Faktor yang
Mempengaruhi Menyimak.
B.
BATASAN
MASALAH
Dalam penulisan makalah ini, masalah dibatasi pada ruang lingkup
pembahasan tentang Pengertian Menyimak, Proses
Menyimak, Suasana Menyimak, Faktor yang Mempengaruhi Menyimak.
C.
TUJUAN
MASALAH
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk
memenuhi tugas kelompok
2. Menambah
wawasan, baik bagi penulis maupun bagi pembaca maupun pendengar.
1
BAB II
A.
PENGERTIAN MENYIMAK
Dalam arti umum menyimak adalah
suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,
pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap
isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang
pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Di dalam proses
menyimak itu sendiri terdapat tahap-tahap yang dilakukan, yaitu tahap
mendengar, tahap memahami, tahap menginterpretasi, tahap mengevaluasi, dan
tahap menanggapi.
Peristiwa menyimak diawali dengan mendengarkan bunyi bahsa secara langsung
atau melalui rekaman radio, telepon, atau televisi. Bunyi bahasa yang diterima
kemudian ditafsirkan maknanya, dinilai kebenarannya agar dapat diputuskan
diterima tidaknya.
2
B.
PROSES MENYIMAK
Tahap mendengar, dalam tahap ini
kita baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh sang pembicara dalam
ujaran atau pembicaraanya, sehingga dalam tahap ini, si pendengar masih berda
dalam tahap hearing.
Tahap memahami. Tahap ini
merupakan tahap lanjutan. Setelah kita mnedengar, ada keinginan bagi kita untuk
mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh sang
pembicara. Tahap ini disebut juga tahap understanding.
Tahap menginterpretasi. Penyimak
yang baik, cermat, dan juga teliti, belum puas jika hanya mendengar dan
memahami isi ujaran sang pembicara. Dia ingin menafsirkan atau
menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam
ujaran tersebut. Dengan demikian, sang penyimak telah tiba pada tahap interpretting.
Tahap mengevaluasi. Setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasi
isi pembicaraan, sang penyimak pun mulai menilai atau mengevaluasi pendapat
serta gagasan sang pembicara, di mana keunggulan dan kelemahan, di mana
kebaikan serta kekurangan sang pembicara dievaluasi. Pada tahap ini sang
penyimak sampai pada tahapm evaluating.
Tahap menanggapi. Tahap
menanggapi merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. sang penyimak
menyambut, mencamkan, menyerap, serta menerima gagasan atau ide yang
dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraanya. Pada tahap ini
sang penyimak sampai pada tahap menanggapi atau responding, Logan et
al (dalam Tarigan 1986: 58-59).
Sejalan dengan pendapat di atas, menuturkan ada empat tahap dalam
proses menyimak. Keempat tahap tersebut adalah: (1) tahap mendengarkan, (2)
tahap memahami, (3) tahap interpretasi, dan (4) tahap evaluasi.
Penyimak yang baik akan
melakukan proses penyimakan secara sistematis. Proses yang sistematis ini akan
menghasilkan hasil simakan yang baik dan berkualitas.
3
C. SUASANA MENYIMAK
Suasana Difensif (bertahan)
memiliki 6 hal yaitu :
- Evaluasi(penilaian),
- mengawasi,
- strategis,
- netral (tidak
memihak),
- pasti dan tentu,
- superior.
Suasana Suportif (mendukung)
memiliki 6 hal yaitu :
- Deskrepsi (menggambarkan),
- Orientasi Masalah,
- Spontanitas,
- Empati (perasaan),
- Ekualitas,
- Profesionaliszm.
4
D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MENYIMAK
Faktor Fisik
- Fisik tubuh (jasmani) =
kondisi normal atau lelah, faktor ini mempengaruhi menyimak dimana saat
kondisi fisik merasa leleah atau tidak bersemangat maka keinginan untuk
menyimak menjadi berkurang akibatnya proses menyimak tidak berjalan dengan
baik, begitu pula sebaliknya, dimana saat kondisi fisik sedang vit maka
proses menyimak berjalan dengan baik dan dengan penuh seangat.
- Lingkungan = panas, dingin,
lembab, bising dll, kondisi suasana lingkungan mempengaruhi proses
menyimak karena menyimak akan berjalan dengan baik dengan kondisi
lingkungan yang tenang,baik, dan nyaman. Saat kondisi lingkungan yang
panas maka penyimak akan terganggu, begitu pula jika kondisi lingkungan
yang nyaman dan tenang maka penyimak merasa nyaman dan tidak terganggu
Faktor Psikologis
- Psikologos
positif
- Latar belakang hidup yang
menyenangkan, yaitu proses menyimak akanberjalan dengan baik jika suasana
hati dan pikiran penyimak dalam keadaan tenang dan menyenangkan. Juga
Penentuan minat dan pilihan. Yaitu proses menyiak akan berjalan dengan
baik jika bahan yang akan disimak oleh penyimak sesuai dengan minat dan
pilihannya, jika bahan yang disimak sesuai dengan pilihan maka penyimak
akan dengan penuh kesungguhan dalam menyimak, namun sebaliknya jika bahan
simakan tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan minat dan pilihan
penyimak maka penyimak akan setengah-setengah dan tidak serius dalam
menyimak.
5
- Kecerdasan emosional, yaitu
kemampuan yang baik pada penyimak untuk cepat dalam menanggapi, memahami,
dan merespon simakan. Faktor ini akan mempengaruhi apakah penyimak tangkas
atau tidaknya dalam menyiak.
- Psikologis negatif
- Prasangka buruk, yaitu
prasangka atau pemikiran yang tidak baik terhadap bahan yang disimak atau
terhadap pembicara. Jika penyimak sudah berperasangka buruk terhadap
pembicara maka minat penyimak untuk menyimak akan berkurang, sehingga
proses menyimak akan menjadi tidak sepenuhnya dijalani (setengah-setengah)
dan informasi yang didapat juga tidak sesuai dengan apa yang disampaikan
- Keegosentrisan (mementingkan
diri sindiri), yaitu sikap penyimak yang hanya mementingkan diri sendiri
sehingga pembicara dan apa yang disampaika oleh pembicara tidak di
tanggapi dengan serius.
- Kepicikan atau pandangan
tidak luas. Yaitu keterbatasan pandangan atau wawasan penyimak terhadap
bahan simakan yang menimbulkan salah makna atau salah paham terhadap apa
yang disampaikan oleh pembicara.
- Bosan dan jenuh, yaitu
kondisi penyimak yang sudah bosan atau jenuh terhadap bahan simakan yang
mungkin terlalu panjang atau terlalu monoton sehingga penyimak menjadi
bosan, kemudian enggan untuk melanjutkan simakan.
- Sikap tidak sopan, yaitu
sikap dan kesopanan sangat mempengaruhi proses menyimak , jika kita
menyimak dengan sikap yang sopan maka kita akan nyaman dalam menyimak,
begitu pula jika pembicara menyampaikan pembicaraan dengan sikap yang
sopan kita akan menganggap baik kepada pembicara dan kita akan lebih mudah
melakukan simakan.
Faktor Pengalaman
- Pertumbuhan dan perkembangan
sikap mempengaruhi minat menyimak, yaitu jika kita mempunyai minat
terhadap sesuatu dan saat menyimak membahas tentang minat yang kita gemari
maka kita akan merasa senang untuk menyimaknya.misal hobby atau minat
terhadap sesuatu.
6
Faktor Sikap
- Menerima simakan,dgn alasan
menarik & menyenangkan. Yaitu kita harus memiliki sikap menerima
terhadap apa yang kita simak, kita harus senang terhadap apa yang kita
simak, sebab jika kita menyukai apa yang disimak maka kita juga akan
dengan penuh kesungguhan menyimak pembicaraan tersebut.
- Menolak simakan, dengan
alasan bosan dan merugikan. Sikap ini kembalikan dar sikap di atas, sikap
ini adalah dimana penyimak merasa bosan dengan simakan, bahkan erasa
dirugikan karena sudah menyimak, misal dirugikan waktu yang terbuang untuk
menyimak hal yang dianggap tidak penting.
Faktor Motivasi
- Kebuutuhan akan pemicu
dorongan dan dukungan untuk melakukan sesuatu, mampu mempengaruhi orang
untuk di simak, yaitu jika kita menyimak sesuatu yang dapat
memotifasi kita dalam aspek kehidupan maka kita akan semangat untuk
menyimak agar dapat mendapatkan motifasi dan menerapkannya dalam
kehidupan. Contoh : acara tv Mario Teguh.
Faktor Lingkungan
- Lingkungan fisik : yaitu
sarana dan kondisi menyimak, sarana yang digunakan dalam menyimak adalah
secara langsung atau tidak langsung,secara langsung misalkan berbicara
dengan teman atau mendengarkan pidato, secara tidak langsung misalkan
menonton tv, mendengarkan radio.
- Lingkungan sosial :
pertemanan, yaitu dimana saat kita berbicara atau berdialog dengan teman
kita.
Faktor Jenis Kelamin.
- Perbedaan umum laki-laki dan
perempuan. Secara umum laki-laki dan perempuan memiliki sifat dan
sikap yang berbeda, dan hal ini merupakan salah satu faktor dalam
menyimak. Namun sikap khas perempuan juga bisa dimiliki oleh laki-laki,
begitu pula sebaliknya, jadi sikap umum laki-laki dan perempuan tidak
relatif.
7
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dalam arti umum menyimak adalah suatu proses kegiatan
menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi,
serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta
memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui
ujaran atau bahasa lisan.
Menyimak adalah suatu kegiatan
yang merupakan suatu proses. Di dalam proses menyimak itu sendiri terdapat
tahap-tahap yang dilakukan, yaitu tahap mendengar, tahap memahami, tahap
menginterpretasi, tahap mengevaluasi, dan tahap menanggapi.
8
DAFTAR
PUSTAKA
Depdiknas. 2004. Pengembangan
Kemampuan Menyimak. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Mulyati, Yeti dkk, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Tinggi, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.
Tarigan
Djago dkk, Pendidikan Keterampilan
Berbahasa,Jakarta: Universitas Terbuka, 2006.
9
KONSEP DASAR MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemuikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman yunani kuno sampai kini (seperti Ulich, 1950).
A. Aliran Kalasik dan Gerakan Baru dalam Pendidikan
Pemikiran-pemikiran tentang pendidikan yang telah dimulai pada zaman yunani kuno, dan dengan kontribusi berbagai bagian dunia lainnya akhirnya berkembang dengan pesat di eropa dan amerika serikat. Oleh karena itu, baik aliran-aliran klasik maupum gerakan-gerakan baru dalam pendidikan pada umumnya berasal dari kedua kawasan itu. Pemikiran-pemikiran itu tersebar keseluruh dunia termasuk indonesia, dengan berbagai cara seperti: dibawa oleh bangsa penjajah kedaerah jajahannya melalui bacaan, dibawa oleh orang-orang yang belajar ke eropa atau amerika serikat, dan sebagainya.
Aliran-aliran klasik yang meliputi aliran-aliran emperisme, nativisme, naturalisme dan konvergensi merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini dan mungkin yang akan datang.
Selanjutnya, terdapat berbagai gagasan yang lebih bersifat satu gerakan dalam pendidikan yang pengaruhnya masih tersa sampai kini, yakni gerakan-gerakan pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, dan pengajaran proyek.
1. Aliran-aliran Klasik dalam Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia
Manusia merupakan makhluk misterius, yang mampu menjelajah angkasa luar, tetapi “ angkasa dalam”nya masih belum cukup terungkap; minimal para pakar dari ilmu-ilmu prilaku cenderung berbeda pendapat tentang berbagai hal mengenai prilaku manusia itu.
Strategi behavioral memandang manusia terutama sebagai makhluk pasif yang tergantung pada pengaruh lingkungan nya (Ingat tradisi ala J. Locke tabularasa), sedan strategi Phenomenologis memandang manusia sebagai makhluk aktif yang mampu beraksi dan melakukan pilihan-pilihan sendiri (Ingat tradisi ala G. Leibnitz: Munad). Bagi Locke “knowledge cumes from eksternal stimulation, that man is a receiver and transmiter” tetapi juga “Generator of information” dengan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA).
Perbedaan pandangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan pandangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai dari yang paling pesimis sampai optimis.
a. Aliran Empirisme
Aliran Empirisme bertolak dari locken Tradition yang mentingkan simulasi external dalam perkembangan manisia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungan sedangkan pembawaan tidak di pentingkan.
Aliran Empirisme di pandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat. Meskipun demikian penganut aliran ini massih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai mahluk yang pasif dan dapat di manipulasi umpama melalui modifikasi tingkah aku.
b. Aliran Nativisme
Aliran Nativisme bertolak dari liebnitian tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak , sehingga faktor lingkungan termasuk faktor pindidkan
Berbasis
Dalam kamus ilmiah, basis diartikan dengan dasar, pokok, atau pangkalan. Kemudian jika kita kaitkan dengan MBS, basis adalah manajemen yang dikelola berdasarkan kebutuhan sekolah itu sendiri. atau manajemen yang memang di sesuaikan dengan kemampuan sekolah tersebut.
Sekolah
Sekolah adalah lembaga belajar dan mengajar sera tempat menerima dan memberi pelajaran. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai, tata usaha, dan murid-murid.
Definisi lain menyebutkan bahwa sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
Sebenarnya sekolah disini merupakan konsep yang luas, yang bisa mencakup semua aspek lembaga, baik lembaga formal maupun lembaga pendidikan non formal. Jadi, bukan hanya lembaga formal saja yang bisa dikatakan sekolah. Akan tetapi, lembaga pendidikan yang non formal juga bisa disebut sekolah. Karena sekolah pada hakekatnya adalah tempat seseorang menuntut ilmu. Jadi, dimanapun tempat orang itu menuntut ilmu, maka disanalah ia bersekolah.
Manajemen berbasis sekolah
Manajemen berbasis sekolah adalah hasil terjemahan dari kata school based management. MBS merupakan suatu pemikiran yang baru dalam pendidikan, yang Memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Otonomi tersebut diberikan karena bertujuan agar sekolah mempunyai keleluasaan dalam mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.
Pada system MBS, sekolah tersebut dituntut untuk bisa mandiri dalam menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan, dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah.
Jadi, MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang memberikan sebuah penawaran kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik.
B. Alasan dan Tujuan Diterapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
MBS yang ditandai dengan otonomi sekolah dan pelibatan masyarakat merupakan respon pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat, yang mana bertujuan untuk meningkatkan efesiensi, mutu, dan pemeratan pendidikan. Peningkatan efesiensi antara lain; diperoleh melalui keleluasaan mengolah sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibel pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah, berlakunya sistem insentif serta disensetif. Peningkatan pemerataan dapat diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan kerena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah.
Tujuan penerapan MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran, kurikulum, sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kapendidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum. Bagi sumber daya manusia, peningkatan kualitas bukan hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, melainkan meningkatkan kesejahteraan pula.
Dengan adanya penerapan MBS ini telah terjadi perubahan kebutuhan siswa sebagai bekal untuk terjun kedalam masyarakat luas di masa mendatang di banding di masa lalu. Oleh karena itu palayanan kepada siswa, program pengajaran dan jasa yang diberikan kepada siswa juga harus sesuai dengan tuntutan baru tersebut. Secara umum perubahan lingkungan menuntut adanya pola kebiasaan dan tingkah laku baru oleh semua pihak.
Ada keuntungan dari adanya penerapan model MBS ini antara lain;
a. Secara formal MBS dapat memahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah.
b. Meningkatkan moral, moral guru harus meningkatkan karena adanya komitmen dan tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan di sekolah.
c. Keputusan yang diambil oleh sekolah memiliki akuntabilitas. Hal ini terjadi karena kostituen sekolah memiliki andil yang cukup dalam setiap pengambilan keputusan.
d. Menyesuaikan sumber daya keuangan terhadap tujuan instruksional yang dikembangkan di sekolah. Keputusan yang di ambil pada tingkat sekolah yang akan lebih rasional karena mereka tahu kekuatan sendiri, terutama kekuatan keunganan.
e. Menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. Pengambilan keputusan ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peran seorang pemimpi.
f. Meningkatkan kualitas, kuantitas, dan fleksibelitas komunikasi sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah. Kebersamaan dalam pemecahan masalah di sekolah telah memperlancar alur komunikasi di antar warga sekolah.
C. Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS)
1. Memberikan kebebasan dan kekuasan yang besar pada sekolah, disertai seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang di berikan memberikan tanggug jawab penegelolaan sumber daya dan pembegian strategi MBS sesuai dengan kondisi setempat.
2. Sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih bekonsentrasi pada tugas.
3. Keleluasan dalam mengelolah sumber daya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong profesionalisme kepada sekolah, dalam perannya sebagai manager maupun pemimpin sekolah.
5
4. Dengan diberikan sekolah untuk menyusun kurikulum, guru didorong untuk berinovasi, dengan melakukan eksperimen-eksperementasi di lingkungan sekolahnya, ini mendorong profesonalisme guru dan juga kepala sekolah sesuai fungsinya.
5. Melalui penyusunan kurikulum efektif, rasa tangkap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkatkan dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan peserta didik dan masyarakat sekolah.
6. Prestasi peserta didik dapat dimaksimalkan melalui peningkatan partisipasi orang tua, seperti orang tua dapat mengawasi langsung proses belajar anaknya.
D. Ciri-ciri atau Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
1. Kewajiban sekolah mampu transparan, demokratis, tanpa monopoli dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, pemerintah.
2. Kebijakan dan perioritas pemerintah sebagai penanggung jawab pandidikan nasional berhak memutuskan kebijakan yang menjadi parioritas nasional, (program buta huruf dan angka, efesiensi, mutu, dan pemeritah pandidikan)
3. Peranan, partisipasi,orang tua dan masyarakat
4. Peranan profesioanalisme dan manajerial, khususnya tingkah laku guru dan kepala sekolah
5. Pengembangan profesi tenaga kependidikan.
Adapun karakterstik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses belajar-mengajar, pengelolaan sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya dan administrasi.
Bahan Rujukan
Prof. Dr. Suhaesimi arikunto dan Lia Yuliana, manajemen Pendidikan, Yogyakarta, Aditia Media Yogyakarta. 2008.
Pius A Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Popular, Surabaya, Arkola,1994
Yin Cheong Cheng, School Effectiveness&School-Based Manajement: A Mechanism For Development, Wsingthon D.C: the falmer press,1996
Drs. Nur kholis, M.M, Manajemen Berbasis Sekolah, Teori,Model,Dan Aplikasi,Jakarta,PT. Garasindo. 2003.
Dr. E. Mulyasa M.Pd, manajemen berbasis sekolah, konsep, strategi, dan implementasi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya. 2005.
0 komentar:
Post a Comment